Kamis, 30 Desember 2010

laporan sapi potong

PENDAHULUAN
Latar Belakang Penelitian
Permintaan pangan hewani asal ternak (daging, telur dan susu) dari waktu ke- waktu cenderung meningkat sejalan dengan pertambanan jumlah penduduk, penda-patan, kesadarangizi, dan perbaikan tingkat pendidikan. Sementara itu pasokan sumber protein hewani terutama daging masih belum dapat mengimbangi meningkatnya jumlah permintaan dalam negeri.
Ternak potong adalah salah satu komoditas ternak ruminansia yang perannya cukup penting dalam kehidupan petani di pedesaan. Bagi petani sapi memiliki manfaat yang besar dalam usahataninya sebagai ; (1) sumber tenaga kerja dalam mengolah la-han, (2) sumber pupuk organis, (3) tabungan, (4) penghasil daging, dan (5) status sosial (Atmadilaga, 1991).
Ditjen Peternakan (2003) melaporkan bahwa populasi sapi potong di Indonesia menurun dalam lima tahun terakhir (-1,08 % per tahun), sementara itu jumlah pemo-tongan selalu meningkat (+0,61 % per tahun). Demikian juga halnya dengan Sumatera Barat, populasi sapi potong di Sumatera Barat tahun 2004 berjumlah 597.294 ekor, dengan peningkatan populasi 2,30 %, sedangkan jumlah pemotongan meningkat sebesar 11,55 % dibandingkan dengan tahun 2003 (BPS, Sumatera Barat 2005). Kesenjangan ini diperkirakan akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, karena adanya wabah Flu Burung (Avian influensa) di beberapa wilayah Indonesia, sehingga sebagian konsu-men daging unggas akan beralih mengkonsumsi daging sapi potong. Untuk mengatasi kesenjangan ini diperlukan import sapi potong dalam jumlah yang cukup besar, pada tahun 2003 import sapi bakalan mencapai 400.000 ekor, dan daging setara dengan 120.000 ekor sapi potong (Kasryno at al. 2004). Volume import yang cukup besar ini, kedepan perlu dicermati dan diantisipasi agar ketergantungan import bisa berkurang.
Berbagai upaya dan strategi telah dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah untuk meningkatkan produktivitas sapi potong, yakni melalui upaya menyebar-kan ternak bantuan pemerintah, peningkatan kelahiran melalui IB, menekan angka ke-matian, mengendalikan pemotongan ternak betina produktif (Soetirto 1997). Salah satu program yang saat ini sedang dilaksanakan pemerintah yakni Program Pengembangan Agribisnis Peternakan (PPAP) dengan pola fasilitasi Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM).
Penerapan pola BPLM pada dasarnya bertujuan untuk memberdayakan petani, dengan membuka peluang pada masyarakat dalam kelompok untuk menentukan sendiri usaha yang akan dilakukan sesuai dengan ketentuannya, mengambil keputusan sendiri tentang berapa banyak ternak akan dikelola, sistem budidaya yang akan dilakukan, sis-tem pengembalian kredit dari anggota kepada kelompok dan sistem pergulirannya. Secara terus menerus diharapkan pola ini akan mampu melepas ketergantungan masya-rakat kepada pemerintah, dan yang paling penting dapat membantu masyarakat menen-tukan kebutuhan dan kegiatannya secara mandiri dengan pendampingan dari pemerintah (Ditjen Peternakan, 2002).
Pemberdayaan kelompok peternak melalui pola BPLM telah dimulai semenjak tahun 2000. Khusus untuk sub-sektor peternakan, total dana yang telah disalurkan sebe-sar Rp 78 M, dan telah mengembangkan 749 kelompok peternak, baik kelompok peter-nak sapi potong, sapi perah, kambing//domba, babi, kerbau, maupun unggas (Ditjaen Peternakan, 2004).
Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai salah satu daerah tingkat dua di Sumatera Barat, dengan luas daerah  335.430 km2 yang terdiri dari 13 kecamatan, dengan ke-tinggian rata-rata 513 meter dari permukaan laut (BPS Kabupaten Lima Puluh Kota, 2005). Populasi ternak sapi potong di kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2004 ber-jumlah 63.189, dan sekitar 90 % nya berasal dari usaha peternakan rakyat yang terintegrasi dengan usahatani yang mereka jalankan (Dinas Peternakan Kabupaten Lima
Puluh Kota, 2005).
Perumusan Masalah Penelitian
Sebagai salah satu sentra produksi sapi potong di Sumatera Barat, kabupaten Lima Puluh Kota mempunyai prospek pengembangan yang baik dimasa datang, hal ini didukung oleh beberapa alasan antara lain ; (1) adanya sumberdaya alam dan sumber-daya petani peternak yang mata pencaharian utamanya dibidang pertanian (64 %), (2) terdapatnya lembaga pendukung yakni Balai Penelitian Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (BPT/HMT) Padang Mengatas dan Balai Inseminasi Buatan Limbukan, (3) letak wilayah yang strategis karena berbatasan dengan propinsi Riau, yang merupakan konsu-men terbesar produk sapi potong asal Sumatera Barat, dan (4) merupakan salah satu daerah tempat pelaksanaan program BPLM usaha sapi potong yakni di kecamatan Luhak, Lareh Sago Halaban, dan Koto Panjang (Dinas Peternakan kabupaten Lima Puluh Kota, 2005).
Pelaksanaan program BPLM usaha sapi potong di kabupaten Lima Puluh Kota telah dimulai semenjak tahun 2000 (kelompok tani ternak Luak Lalang, kecamatan Luhak), kemudian tahun 2002 (kelompok tani ternak Sikabu Saiyo, kecamatan Situjuah Limo Nagari), tahun 2004 (kelompok tani ternak Tunas Muda, kecamatan Lareh Sago Halaban), dan tahun 2005 di daerah Koto Panjang (Dinas Peternakan kabupaten Lima Puluh Kota, 2005).
Arfa`i (2005) melaporkan bahwa ada beberapa indikasi yng ditemukan dalam pelaksanaan program ini di kabupaten lima Puluh kota, yaitu ; (1) mekanisme pembe-rian bantuan yang kurang transparan pada anggota kelompok (kelompok tani ternak Tunas Muda), (2) pengembalian kredit yang tidak lancar kepada rekening kelompok (kelompok tani ternak Luak Lalang), dan (3) proses perguliran yang belum optimal (kelompok tani ternak Sikabu Saiyo). Karena program ini masih berlanjut sampai seka-rang, dan untuk perbaikan program ini dimasa datang maka perlu dilakukan penelitian ini.
Beberapa permasalahan yang akan menjadi kajian utama penelitian ini adalah :
1. Bagaimana mekanisme pemberian bantuan BPLM kepada kelompok dan anggo-ta kelompok
2. Bagaimana pengaruh program terhadap kelembagaan kelompok (perkembangan anggota inti dan sub-inti yang menerima perguliran).
3. Bagaimana pengaruh program terhadap usaha yang dijalankan (perkembangan dalam permodalan, peningkatan skala usaha, peningkatan pendapatan anggota kelompok).
4. Bagaimana pengaruh program terhadap aspek teknis usaha sapi potong (pening-katan produksi dan produktivitas sapi potong, optimasi penggunaan sarana pro-duksi).
5. Apakah pelaksanaan program telah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Usaha Peternakan Sapi Potong
Sapi potong merupakan salah satu sumberdaya penghasil bahan makanan berupa daging yang memeliki nilai ekonomi tinggi dan penting artinya dalam kehidupan masyarakat. Ternak sapi bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan terutama bahan makanan berupa daging disamping hasil ikutan lain seperti pupuk, kulit, tulang, dan saebagainya (Sugeng 1999). Sedangkan menurut Natasasmita dan Mudikdjo (1979) ternak sapi dalam jangka waktu yang cukup panjang akan tetap mempunyai peranan penting bagi sektor pertanian di Indonesia. Ternak ini sangat sesuai untuk berbagai segi kehidupan usahatani di Indonesia yang kegunaannya antara lain sebagai sumber tenaga, pengubah hasil limbah pertanian dan rumput alam, tabungan dan cadangan uang tunai dan sumber pupuk organik.
Pemeliharaan sapi potong di Indonesia dilakukan secara ekstensif, semi intensif dan intensif. Pada umumnya sapi-sapi yang dipelihara secara intensif hampir sepanjang hari berada dalam kandang dan diberikan pakan sebanyak dan sebaik mungkin sehingga cepat gemuk, sedangkan secara ekstensif sapi-sapi tersebut dilepas dipadang pengem-balaan dan digembalakan sepanjang hari (Sugeng, 1999).
Program pengembangan sapi potong dimasa datang harus dilakukan secara efek-tif dan efisien sehingga produk yang dihasilkan mampu bersaing dengan produk luar negeri. Hal ini dapat dicapai apabila pemanfaatan sumberdaya dilakukan secara tepat dan optimal serta pemanfaatan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan agroklimat setempat. Sementara itu faktor-faktor lain-nya baik yang bersifat kelembagaan, sarana dan prasarana serta peraturan-peraturan yang ada harus mendukung secara baik dan konsisten (Soetirto, 1997).
Mengingat kondisi Indonesia yang merupakan negara agraris maka sektor per- tanian tidak dapat terlepas dari berbagai sektor yang lain diantaranya sub sektor peter- nakan. Faktor pertanian dan penyebaran penduduk di Indonesia menentukan penye-baran usaha ternak sapi. Masyarakat peternak yang bermata pencaharian bertani tidak bisa lepas dari usaha ternak sapi, baik untuk tenaga, pupuk dan sebagainya, sehingga maju mundurnya usaha ternak sapi tergantung pada usahatani. Usahatani maju berarti menunjang produksi pakan ternak berupa hijauan, hasil ikutan pertanian berupa biji-
bijian atau pakan penguat (Sugeng, 1999).

Faktor-faktor Penentu Usahatani Ternak
Menurut Hernanto (1995) faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam usahatani adalah ; petani sebagai pengelola, tanah usahatani, tenaga kerja, modal, tingkat tekno-logi, kemampuan petani mengalokasikan penerimaan keluarga dan jumlah anggota ke-luarga. Dalam usahatani di negara kita faktor produksi tanah mempunyai kedudukan penting, seperti halnya dengan modal dan tenaga kerja. Dalam perjalanan waktu situasi dan kondisi sektor pertanian pada posisi yang bersaing ketat dengan sektor lain seperti industri, perumahan, prasarana umum, perkantoran dan bangunan-bangunan pendidikan, sosial dan lain-lain. Tanah yang sempit dengan kualitas tanah yang kurang baik meru-pakan beban bagi petani pengelola.
Kebutuhan lahan bagi pengembangan ternak ruminansia dirasakan sangat pen- ting terutama sebagai sumber hijauan pakan, akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa dengan semakin padatnya penduduk, lahan yang tersedia untuk hijauan pakan ternak semakin menyempit. Akibatnya didaerah padat penduduk ternak lebih banyak tergan-tung pada limbah pertanian walaupun pada kenyataannya tidak seluruh limbah pertanian tersedia efektif untuk makanan ternak (Arfa`i, 2005).
Faktor produksi penting ke dua adalah modal. Mubyarto (1994) menyatakan bahwa modal diartikan sebagai barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang-barang baru dalam hal ini hasil pertanian. Modal petani yang berupa barang di luar tanah adalah ternak beserta kandang, cangkul, bajak dan alat-alat pertanian lain, pupuk, bibit, hasil panen yang belum dijual, tanaman yang masih disawah dan lain-lain. Modal terbagi atas modal tetap dan modal lancar, modal tetap adalah jenis-jenis modal yang terdiri dari : lahan, bangunan, alat-alat perta-nian, tanaman dilapangan, ternak kerja dan ternak produksi. Sedangkan modal lancar adalah modal yang sewaktu-sewaktu dapat dijadikan uang tunai.
Sumberdaya manusia juga merupakan faktor penting dalam usaha peternakan karena hal ini sangat berkaitan dengan tenaga kerja. Yang dimaksud dengan tenaga kerja dalam usahatani adalah tenaga kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan berba-gai macam kegiatan produksi dalam rangka menghasilkan barang dan jasa yang berasal dari tanaman dan ternak. Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri, yang terdiri dari ayah, istri dan anak-anak petani (Mubyarto, 1994). Hernanto (1995) menyatakan bahwa tenaga kerja terdiri dari tenaga kerja manusia, tenaga kerja ternak dan mekanik. Adapun tenaga kerja manusia dipengaruhi oleh umur, pendidikan, pengalaman, keterampilan, kesehatan, faktor alam seperti iklim dan kondisi lahan usahatani. Potensi tenaga kerja petani adalah jumlah tenaga kerja yang tersedia pada satu keluarga petani. Kegiatan tenaga kerja untuk usaha ternak sapi
meliputi pembuatan kandang, pemeliharaan ternak dan panen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar